Infomasi Penting : SITUS REKOMENDASI DARI KAMI SAAT INI ADALAH JPOKER99.COM dan JBANDAR.COM, MIN DEPO RENDAH WINRATE MANTAP, SILAKAN DI GAS BOSKU

Friday, 13 March 2020

Asal-Usul Mula Nya Anak SUngai Mahakam

March 13, 2020 0 Comments
Masterceme, Legenda - Sungai Mahakam merupakan sungai terbesar di Kalimantan Timur. Sungai yang panjangnya mencapai 920 km dengan lebar 300-500 meter ini memliki banyak anak sungai. Menurut cerita, sebagian anak Sungai Mahakam terbentuk akibat sebuah peristiwa yang pernah terjadi di daerah tersebut. Peristiwa apakah itu? Berikut kisahnya .

Dahulu, di sekitar hulu Sungai Mahakam, terdapat sebuah pondok besar yang dihuni oleh tiga orang bersaudara. Saudara tertua seorang gadis bernama Siluq, saudara kedua bernama Ayus, serta yang paling bungsu bernama Ongo. Mereka memiliki tabiat dan keahlian yang berbeda-beda, kecuali si bungsu yang masih kecil. Siluq adalah gadis yang gemar melakukan bebelian (ritual adat) dan bedewa (memuja dewa) untuk mencari kesaktian. Hampir setiap hari dan malam hari gadis itu bersemedi sehingga terkadang lupa makan dan minum.

Asal-Usul Mula Nya Anak SUngai Mahakam

Sementara itu, Ayus adalah seorang remaja lelaki yang ceroboh dan suka mencampuri urusan kakaknya. Ayus memiliki badan yang besar dan kuat. Pohon besar dapat dengan mudah dicabutnya. Langkah kakinya juga sangat panjang sehingga ia dapat berlari secepat angin. Sedangkan si Bungsu yang masih berumur belasan tahun tidak memiliki keahlian apa-apa kecuali makan dan tidur.

 Daftar Sekarang

Suatu malam, Ayus dan Ongo tidak dapat tidur karena tilam (kasur) dan bantal mereka basah. Malam itu, hujan lebat turun semalam suntuk sehingga menyebabkan atap rumah mereka bocor, air hujan pun menerobos masuk ke dalam pondok mereka. Siluq tidak merasakan datangnya hujan karena sedang khusyuk bebelian dan bedewa.

Pagi harinya, Ayus dan Ongo bermaksud ke hutan untuk mencari daun serdang untuk mengganti atap rumah mereka yang rusak. Saat itu, Siluq tampak masih bebelian dan bedewa. Sebenarnya, Ayus merasa kesal melihat kelakukan kakaknya yang seolah-olah tidak menghiraukan keadaan rumah mereka.

“Kak Siluq, hari sudah siang!” seru Ayus, “Aku dan Ongo hendak ke hutan mencari daun serdang. Setelah selesai bebelian, kakak yang nanti memasak untuk makan siang!”

Mendengar suara adiknya, Siluq pun terkejut dan tersadar dari semedinya. Ia merasa amat kecewa karena semedinya belum selesai tapi sudah dibangunkan oleh adiknya.

“Baiklah, aku nanti yang memasak,” jawab Siluq yang kemudian berpesan kepada kedua adiknya, “Sepulang dari hutan, jangan sekali-kali kalian membuka tutup periuk. Cukup kalian tambahkan kayu bakar jika memang apinya mulai kecil.”

“Baik, Kak,” jawab Ayus dan Ongo serempak.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Ketika Ayus dan Ongo berangkat ke hutan, Siluq segera mengambil beberapa lembar daun padi untuk dimasak. Setelah dibersihkan, daun padi itu ia masukkan ke dalam periuk yang sudah diisi air. Setelah itu, ia kembali melanjutkan semedinya dan berdoa kepada dewa agar daun padi yang dimasak itu berubah menjadi nasi.

Menjelang siang, Ayus dan Ongo sudah kembali dari hutan dengan membawa daun serdang. Mereka terlihat sangat lelah dan lapar. Ayus pun langsung masuk ke dapur. Alangkah kecewanya ia saat melihat periuk nasi masih terjerang di atas tungku.

“Kenapa pancinya masih di atas tungku? Jangan-jangan nasinya belum matang,” gumam Ayus.

Ayus penasaran ingin mengetahui isi panci itu. Maka, ia pun segera membuka penutup panci tersebut. Betapa terkejutnya ia tatkala melihat panci itu yang di dalamnya hanya terdapat beberapa lembar daun padi dan sebagian lainnya berupa nasi. Takut ketahuan oleh kakaknya, ia cepat-cepat menutup kembali panci itu.

Sementara itu, Siluq baru saja selesai bebelian. Ia kemudian menuju ke dapur untuk memastikan apakah nasinya sudah tanak atau belum. Begitu ia membuka penutup panci itu, dilihatnya masih ada beberapa lembar daun padi yang tersisa.

“Hai, bukankah seharusnya nasi ini sudah matang semua? Tapi, kenapa masih ada beberapa lembar daun padi yang tersisa?” gumam Siluq dengan heran, “Ini pasti perbuatan Ayus. Anak itu telah melanggar pesanku.”

Siluq terlihat sangat marah. Karena perilaku adiknya itu, kini kesaktiannya memasak daun padi menjadi nasi telah hilang. Dengan kesal, ia segera menghampiri Ayus yang sedang duduk beristirahat di samping pondok mereka.

“Hai, Ayus. Kamu telah melanggar pesanku. Tidak ada lagi gunanya kita tinggal bersama. Lebih baik aku pergi dari sini. Aku akan tinggal di dekat pusat air. Di sana aku dapat bebas bebelian dan bedewa tanpa ada yang mengganggu,” kata Siluq.

Asal-Usul Mula Nya Anak SUngai Mahakam

Usai berkata demikian, Siluq segera mengemas pakaiannya. Sebelum pergi, ia membawa ayam jantan sakti kesayangannya. Siluq kemudian menyusuri sungai menuju hilir dengan menggunakan rakit. Sebelum berangkat, ia berpesan kepada adik-adiknya.

“Aku harus pergi sekarang. Jagalah diri kalian baik-baik,” ujar Siluq.

Ayus terdiam. Ia merasa amat menyesal atas perilakunya sendiri yang menyebabkan kakaknya pergi. Ketika melihat rakit yang ditumpangi Siluq melaju di atas aliran sungai yang deras, cepat-cepatlah ia berlari hendak menghalangi kakaknya. Dengan kecepatan lari yang luar biasa, ia dapat mendahului kakaknya jauh di depan. Ayus kemudian mengambil batu-batu besar dan melemparkannya ke tengah Sungai Mahakam sehingga terbentuklah bendungan. Rakit yang ditumpangi Siluq pun mulai melambat. Ketika Siluq tiba di dekat bendungan itu, ia memberintahkan jantan saktinya berkokok.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

“Berkoteklah, ayamku!” seru Siluq.

Ayam jantan itu pun berkokok. Suara kokok ayam sakti itu pun seketika menghancurkan bendungan yang dibuat Ayus. Suliq dengan rakitnya pun kembali melaju menuju ke hilir. Ayus tidak mau kalah, ia berlari kencang mendahului kakaknya dan membuat bendungan lagi. Ketika ayam jantan milik kakaknya berkokok, bendungan itu kembali hancur berkeping-keping. Demikian hal tersebut terjadi berulang-ulang sehingga Siluq dengan rakitnya tetap mampu menghilir karena kesaktian suara kokok ayamnya. Menurut cerita, bekas-bekas bendungan tersebut kini menjadi keham atau jeram di hulu Sungai Mahakam.

Sementara itu, rakit yang tumpangi Siluq terus melaju hingga akhirnya tiba di muara Sungai Mahakam. Ayus tidak mampu lagi membuat bendungan karena tidak ada lagi batu-batu besar di daerah itu. Dengan kekuatannya, ia menambak kuala sungai dengan mengambil lumpurnya dan mencabut nipah-nipah yang tumbuh di pinggir sungai. Nipah-nipah tersebut kemudian ditanam pada tambak buatannya sehingga terbentuklah hutan nipah. Setelah itu, Ayus menunggu rakit Siluq melewati tempat itu.


Tak berapa Ayus menunggu, dari kejauhan tampaklah rakit Siluq sedang melaju ke hilir. Ketika rakit itu hendak melewati hutan nipah buatan Ayus, ayam jantan Siluq berkokok. Tak ayal, hutan nipah itu pun hancur sehingga terbentuklah aliran-aliran sungai yang kini bernama Kuala Bayur, Kuala Berau, dan sejumlah delta di Kuala Mahakam.

Sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke laut lepas, Siluq berpesan kepada Ayus.

“Ayus, tolong jangan lagi kau halang-halangi jalanku. Biarkanlah aku mendekatkan diri kepada Sang Hyang Dewata di pusat air,” pinta Siluq, “Aku akan bebelian dan bedewa untuk menenteramkan jiwa. Dari sana, aku akan menjaga kamu dan Ongo.”

Usai berpesan, Suliq dan rakitnya tiba-tiba menghilang dan muncul kembali di pusat air. Alangkah terkejutnya Ayus saat menyaksikan peristiwa itu. Ia benar-benar tak kuasa menahan kepergian kakaknya. Ia pun merasa menyesal karena telah melanggar janjinya.

Selamat datang di Masterceme
Hanya 1 user id bisa memainkan 7 jenis permainan.
Minimal Deposit & Withdraw hanya 25.000/50.000
Bonus New Member 20%
Bonus Deposit Harian
Bonus Referal Sebesar 20%
Link : Masterceme{dot}com
WA : +85578968600

 Daftar Sekarang

Wednesday, 11 March 2020

Legenda Rakya Buaya Tembaga Yang Baik Hati

March 11, 2020 0 Comments
Masterceme, Legenda - Menurut cerita dahulu kala di teluk Baguala terdapat seekor buaya besar, panjangnya kira-kira 5 meter dan warna kulitnya kuning sehinga oleh penduduk di sana lalu diberi nama “Buaya Tembaga.”


Buaya Tembaga tersebut tidak pernah memangsa hewan lain. Namun, sebaliknya ia selalu menolong ikan-ikan, hewan-hewan lainnya dan selalu melindungi mereka dari hewan buas. Keberadaannya Buaya Tembaga terdengar sampai pesisir selatan Pulau Baru. Hewan yang berada di Pulau Baru hidup dalam ketakutan karena ada seekor Ular besar yang selalu memangsa hewan-hewan.

Akhirnya, mereka mengirim utusan untuk meminta bantuan kepada Buaya Tembaga. Yang diutus adalah seekor Ikan, Ikan tersebut harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Sang Ikan pun sampai di kediaman Buaya Tembaga.

‘’ Buaya Tembaga yang baik hati, aku datang dari Pulau Baru untuk meminta bantuanmu.’’ Ujar sang Ikan.

‘’ Apa yang bisa aku bantu?’’ jawab Buaya Tembaga.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

‘’ Selama ini kami hidup dalam ketakutan karena ada seekor Ular besar yang melingkar pada pohon. Pohon tersebut melingkar pada pohon dan melintang pada aliran air yang biasa kami gunakan. Hidup kami menjadi tidak tenang. Kami sangat memohon kepada mu untuk membantu mengusir Ular tersebut.’’ ujar Ikan menjelaskan.

Tanpa berpikir panjang, Buaya Tembaga langsung mengabulkan permintaan utusan tersebut. akhirnya, mereka pergi bersama-sama ke Pulau Baru. Buaya Tembaga harus menempuh perjalanan yang cukup jauh. Sesampainya ia disana, ia dipersilahkan untuk istirahat dan dijamu dengan sangat baik.

Keesokan harinya, Buaya Tembaga diantar oleh seluruh Ikan-ikan menuju sang Ular. Pada saat sampai ditempat tujuan, Buaya Tembaga mulai waspada. Ia semakin mendekat pada Ular tersebut. ternyata, Ular sudah memperhatikannya dan menjulurkan kepalanya. Dalam sekejap sang Ular pun langsung melilit tubuh Buaya Tembaga dengan sekuat tenaga. Namun, Buaya Tembaga tenang dan mengumpulkan tenaganya untuk membalas serangan sang Ular.


Pada saat lilitan Ular mulai mengendur. Buaya Tembaga langsung membalik tubuhnya di dalam air. Ekornya pun ikut bergerak untuk memukul sang Ular. Tidak perlu menunggu waktu yang cukup lama, Ular mulai kehabisan napas. Pada saat lilitannya semakin mengendur Buaya Tembaga langsung memukul kepala sang Ular. Ular pun menyerah dan pergi meninggalkan Pulau Baru.

Seluruh hewan penghuni Pulau Biru bersorak gembira menyambut kemenangan Buaya Tembaga. Mereka memberikan hadiah berupa Ikan yang sangat banyak. Ikan-ikan tersebut berupa Ikan Parere dan Ikan Parang untuk dibawa pulang.  Sampai sekarang,  masyarakat Maluku sangat percaya jika melihat keberadaan Buaya Tembaga di Teluk Baguala. Pasti disana bermunculan Ikan yang sangat banyak.

Selamat datang di Masterceme
Hanya 1 user id bisa memainkan 7 jenis permainan.
Minimal Deposit & Withdraw hanya 25.000/50.000
Bonus New Member 20%
Bonus Deposit Harian
Bonus Referal Sebesar 20%
Link : Masterceme{dot}com
WA : +85578968600

 Daftar Sekarang

Monday, 9 March 2020

Legenda terbentuknya Danua Yang Kita Kenal Dengan Nama Maninjau

March 09, 2020 0 Comments
Masterceme, Legenda - Danau Maninjau adalah sebuah danau vulkanik yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Danau dengan luas sekitar 99,5 km2 dengan kedalaman mencapai 495 meter ini merupakan danau terluas kesebelas di Indonesia, dan terluas kedua di Sumatra Barat. Menurut cerita, Danau Maninjau pada awalnya merupakan gunung berapi yang di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas. Oleh karena ulah manusia, gunung berapi itu meletus dan membentuk sebuah danau yang luas. Apa gerangan yang menyebabkan gunung berapi itu meletus dan berubah menjadi danau? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Asal Usul Danau Maninjau berikut ini!

Legenda terbentuknya Danua Yang Kita Kenal Dengan Nama Maninjau

di sebuah daerah di Sumatra Barat ada sebuah gunung berapi yang amat tinggi bernama Gunung Tinjau. Di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas, dan di kakinya terdapat beberapa perkampungan. Penduduknya hidup makmur dan sejahtera, karena mereka sangat rajin bertani. Di samping itu, tanah yang ada di sekitar Gunung Tinjau amat subur, karena sering mendapat pupuk alami berupa abu gunung.

Di salah satu perkampungan di kaki Gunung Tinjau itu tinggal sepuluh orang bersaudara yang terdiri dari sembilan lelaki dan seorang perempuan. Penduduk sekitar biasa memanggil mereka Bujang Sembilan. Kesepuluh orang bersaudara tersebut adalah Kukuban, Kudun, Bayua, Malintang, Galapuang, Balok, Batang, Bayang, dan lelaki termuda bernama Kaciak. Sementara adik mereka yang paling bungsu adalah seorang perempuan bernama Siti Rasani, akrab dipanggil Sani. Kedua orangtua mereka sudah lama meninggal, sehingga Kukuban sebagai anak sulung menjadi kepala rumah tangga. Semua keputusan ada di tangannya.

Kesepuluh bersaudara tersebut tinggal di sebuah rumah peninggalan kedua orangtua mereka. Untuk memenuhi kebutuhannya, mereka menggarap lahan pertanian yang cukup luas warisan kedua orangtua mereka. Mereka sangat terampil bertani, karena mereka rajin membantu ayah dan ibunya ketika keduanya masih hidup. Di samping itu, mereka juga dibimbing oleh paman mereka yang bernama Datuk Limbatang, yang akrab mereka panggil Engku.

Datuk Limbatang adalah seorang mamak di kampung itu dan mempunyai seorang putra yang bernama Giran. Sebagai mamak, Datuk Limbatang memiliki tanggungjawab besar untuk mendidik dan memerhatikan kehidupan warganya, termasuk kesepuluh orang kemenakannya tersebut. Untuk itu, setiap dua hari sekali, ia berkunjung ke rumah Kukuban bersaudara untuk mengajari mereka keterampilan bertani dan berbagai tata cara adat daerah itu. Tak jarang pula Datuk Limbatang mengajak istri dan putranya ikut serta bersamanya.

Pada suatu hari, ketika Datuk Limbatang bersama istri dan Giran berkunjung ke rumah Bujang Sembilan, secara tidak sengaja Sani saling berpandangan dengan Giran. Rupanya, kedua pemuda dan gadis itu sama-sama menaruh hati. Giran pun mengajak Sani untuk bertemu di sebuah ladang di pinggir sungai. Dengan hati berdebar, Giran pun mengungkapkan perasaannya kepada Sani.

“Sudah lama merendam selasih
Barulah kini mau mengembang
Sudah lama kupendam kasih
Barulah kini bertemu pandang”

“Telah lama orang menekat
Membuat baju kebaya lebar
Sudah lama abang terpikat
Hendak bertemu dada berdebar”

“Rupa elok perangaipun cantik
Hidupnya suka berbuat baik
Orang memuji hilir dan mudik
Siapa melihat hati tertarik”

“Dik, Sani! Wajahmu cantik nan elok, perangai baik nan berhati lembut. Maukah engkau menjadi kekasih Abang?” tanya Giran.

Pertanyaan itu membuat jantung Sani berdetak kencang. Dalam hatinya, ia juga suka kepada Giran. Maka ia pun membalasnya dengan untaian pantun.

“Buah nangka dari seberang
Sedap sekali dibuat sayur
Sudah lama ku nanti abang
Barulah kini dapat menegur”

“Jika roboh kota Melaka
Papan di Jawa saya tegakkan
Jika sungguh Kanda berkata
Badan dan nyawa saya serahkan”

Alangkah senang hati Giran mendengar jawaban dari Sani. Ia benar-benar merasa bahagia karena cintahnya bersambut.

Maka sejak itu, Giran dan Sani menjalin hubungan kasih. Pada mulanya, keduanya berniat untuk menyembunyikan hubungan mereka. Namun karena khawatir akan menimbulkan fitnah, akhirnya keduanya pun berterus terang kepada keluarga mereka masing-masing. Mengetahui hal itu, keluarga Giran dan Sani pun merasa senang dan bahagia, karena hal tersebut dapat mempererat hubungan kekeluargaan mereka. Sejak menjalin hubungan dengan Sani, Giran seringkali berkunjung ke rumah Bujang Sembilan. Bahkan, ia sering membantu Bujang Sembilan bekerja di sawah.

Ketika musim panen tiba, semua penduduk kampung memperoleh hasil yang melimpah. Untuk merayakan keberhasilan tersebut, para pemuka adat dan seluruh penduduk bersepakat untuk mengadakan gelanggang perhelatan, yaitu adu ketangkasan bermain silat. Para pemuda kampung menyambut gembira acara tersebut. Dengan semangat berapi-api, mereka segera mendaftarkan diri kepada panitia acara. Tidak ketinggalan pula Kukuban dan Giran turut ambil bagian dalam acara tersebut.

Legenda terbentuknya Danua Yang Kita Kenal Dengan Nama Maninjau

Pada hari yang telah ditentukan, seluruh peserta berkumpul di sebuah tanah lapang. Sorak sorai penonton pun terdengar mendukung jagoannya masing-masing. Beberapa saat kemudian, panitia segera memukul gong pertanda acara dimulai. Rupanya, Kukuban mendapat giliran pertama tampil bersama seorang lawannya dari dusun tetangga. Tampak keduanya saling berhadap-hadapan di tengah arena untuk saling adu ketangkasan. Siapa pun yang menang dalam pertarungan itu, maka dia akan melawan peserta berikutnya. Ternyata, Kukuban berhasil mengalahkan lawannya. Setelah itu, peserta berikutnya satu per satu masuk ke arena gelanggang perhelatan untuk melawan Kukuban, namun belum seorang pun yang mampu mengalahkannya. Masih tersisa satu peserta lagi yang belum maju, yakni si Giran. Kini, Kukuban menghadapi lawan yang seimbang.

“Hai, Giran! Majulah kalau berani!” tantang Kukuban.

“Baiklah, Bang! Bersiap-siaplah menerima seranganku!” jawab Giran dan langsung menyerang Kukuban.

Maka terjadilah pertarungan sengit antara Giran dan Kukuban. Mulanya, Giran melakukan serangan secara bertubi-tubi ke arah Kububan, namun semua serangannya mampu dielakkan oleh Kukubun. Beberapa saat kemudian, keadaan jadi terbalik. Kukuban yang balik menyerang. Ia terus menyerang Giran dengan jurus-jurus andalannya secara bertubi-tubi. Giran pun terdesak dan kesulitan menghindari serangannya. Pada saat yang tepat, Kukuban melayangkan sebuah tendangan keras kaki kirinya ke arah Giran. Giran yang tidak mampu lagi menghindar, terpaksa menangkisnya dengan kedua tangannya.

“Aduh, sakit…! Kakiku patah!” pekik Kukuban dan langsung berguling di tanah sambil menjerit kesakitan.

Rupanya, tangkisan Giran itu membuat kaki kirinya patah. Ia pun tidak mampu lagi melanjutkan pertandingan dan dinyatakan kalah dalam gelanggang tersebut. Sejak itu, Kukuban merasa kesal dan dendam terhadap Giran karena merasa telah dipermalukan di depan umum. Namun, dendam tersebut dipendamnya dalam hati.

Beberapa bulan kemudian, dendam Kukuban yang dipendam dalam hati itu akhirnya terungkap juga. Hal itu bermula ketika suatu malam, yakni ketika cahaya purnama menerangi perkampungan sekitar Gunung Tinjau, Datuk Limbatang bersama istrinya berkunjung ke rumah Bujang Sembilan. Kedatangan orangtua Giran tersebut bukan untuk mengajari mereka cara bercocok tanam atau tata cara adat, melainkan ingin menyampaikan pinangan Giran kepada Sani.

“Maaf, Bujang Sembilan! Maksud kedatangan kami kemari ingin lebih mempererat hubungan kekeluargaan kita,” ungkap Datuk Limbatang.

“Apa maksud, Engku?” tanya si Kudun bingung.

“Iya, Engku! Bukankah hubungan kekeluargaan kita selama ini baik-baik saja?” sambung Kaciak.

“Memang benar yang kamu katakan itu, Anakku,” jawab Datuk Limbatang yang sudah menganggap Bujang Sembilan seperti anaknya sendiri.



“Begini, Anak-anakku! Untuk semakin mengeratkan hubungan keluarga kita, kami bermaksud menikahkan Giran dengan adik bungsu kalian, Siti Rasani,” ungkap Datuk Limbatang.

“Pada dasarnya, kami juga merasakan hal yang sama, Engku! Kami merasa senang jika Giran menikah dengan adik kami. Giran adalah pemuda yang baik dan rajin,” sambut si Kudun.

Namun, baru saja kalimat itu lepas dari mulut si Kudun, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang sangat keras dari Kukuban.

“Tidak! Aku tidak setuju dengan pernikahan mereka! Aku tahu siapa Giran,” seru Kukuban dengan wajah memerah.

“Dia pemuda sombong, tidak tahu sopan santun dan kurang ajar. Dia tidak pantas menjadi suami Sani,” tambahnya.

“Mengapa kamu berkata begitu, Anakku? Adakah perkataan atau perilakunya yang pernah menyinggung perasaanmu?” tanya Datuk Limbatang dengan tenang.

“Ada, Engku! Masih ingatkah tindakan Giran terhadapku di gelanggang perhelatan beberapa bulan yang lalu? Dia telah mematahkan kaki kiriku dan sampai sekarang masih ada bekasnya,” jawab Kukuban sambil menyingsingkan celana panjangnya untuk memperlihatkan bekas kakinya yang patah.

“Oooh, itu!” jawab Datuk Limbatang singkat sambil tersenyum.

“Soal kaki terkilir dan kaki patah, kalah ataupun menang dalam gelanggan itu hal biasa. Memang begitu kalau bertarung,” ujar Datuk Limbatang.

“Tapi, Engku! Anak Engku telah mempermalukanku di depan orang banyak,” sambut Kukuban.

“Aku kira Giran tidak bermaksud mempermalukan saudaranya sendiri,” kata Datuk Limbatang.

“Ah, itu kata Engku, karena ingin membela anak sendiri! Di mana keadilan Engku sebagai pemimpin adat?” bantah Kukuban sambil menghempaskan tangannya ke lantai.

Semua yang ada dalam pertemuan itu terdiam. Kedelapan saudaranya tak satu pun yang berani angkat bicara. Suasana pun menjadi hening dan tegang. Kecuali Datuk Limbatang, yang terlihat tenang.

“Maaf, Anakku! Aku tidak membela siapa pun. Aku hanya mengatakan kebenaran. Keadilan harus didasarkan pada kebenaran,” ujar Datuk Limbatang.

“Kebenaran apalagi yang Engku maksud. Bukankah Giran telah nyata-nyata mencoreng mukaku di tengah keramaian?”

“Ketahuilah, Anakku! Menurut kesaksian banyak orang yang melihat peristiwa itu, kamu sendiri yang menyerang Giran yang terdesak dengan sebuah tendangan keras, lalu ditangkis oleh Giran. Tangkisan itulah yang membuat kakimu patah. Apakah menurutmu menangkis serangan itu perbuatan curang dan salah?” tanya Datuk Limbatang.

Kukuban hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Walaupun dalam hatinya mengakui bahwa apa yang dikatakan Datuk Limbatang adalah benar, tetapi karena hatinya sudah diselimuti perasaan dendam, ia tetap tidak mau menerimanya.

“Ketahuilah, Anakku! Menurut kesaksian banyak orang yang melihat peristiwa itu, kamu sendiri yang menyerang Giran yang terdesak dengan sebuah tendangan keras, lalu ditangkis oleh Giran. Tangkisan itulah yang membuat kakimu patah. Apakah menurutmu menangkis serangan itu perbuatan curang dan salah?” tanya Datuk Limbatang.

Kukuban hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Walaupun dalam hatinya mengakui bahwa apa yang dikatakan Datuk Limbatang adalah benar, tetapi karena hatinya sudah diselimuti perasaan dendam, ia tetap tidak mau menerimanya.

“Terserah Engku kalau tetap mau membela anak sendiri. Tapi, Sani adalah adik kami. Aku tidak akan menikahkan Sani dengan anak Engku,” kata Kukuban dengan ketus.

“Baiklah, Anakku! Aku juga tidak akan memaksamu. Tapi, kami berharap semoga suatu hari nanti keputusan ini dapat berubah,” kata Datuk Limbatang seraya berpamitan pulang ke rumah bersama istrinya.

Rupanya, Siti Rasani yang berada di dalam kamar mendengar semua pembicaraan mereka. Ia sangat bersedih mendengar putusan kakak sulungnya itu. Baginya, Giran adalah calon suami yang ia idam-idamkan selama ini. Sejak kejadian itu, Sani selalu terlihat murung. Hampir setiap hari ia duduk termenung memikirkan jalah keluar bagi masalah yang dihadapinya. Begitupula si Giran, memikirkan hal yang sama. Berhari-hari kedua pasangan kekasih itu berpikir, namun belum juga menemukan jalan keluar. Akhirnya, keduanya pun sepakat bertemu di tempat biasanya, yakni di sebuah ladang di tepi sungai, untuk merundingkan masalah yang sedang mereka hadapi.

Legenda terbentuknya Danua Yang Kita Kenal Dengan Nama Maninjau

“Apa yang harus kita lakukan, Dik?” tanya Giran.

“Entahlah, Bang! Adik juga tidak tahu harus berbuat apa. Semua keputusan dalam keluarga Adik ada di tangan Bang Kukuban. Sementara dia sangat benci dan dendam kepada Abang,” jawab Sani sambil menghela nafas panjang.

Beberapa lama mereka berunding di tepi sungai itu, namun belum juga menemukan jalan keluar. Dengan perasaan kalut, Sani beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba sepotong ranting berduri tersangkut pada sarungnya.

“Aduh, sarungku sobek!” teriak Sani kaget.

“Wah, sepertinya pahamu tergores duri. Duduklah Adik, Abang akan mengobati lukamu itu!” ujar Giran.

Giran pun segera mencari daun obat-obatan di sekitarnya dan meramunya. Setelah itu, ia membersihkan darah yang keluar dari paha Sani, lalu mengobati lukanya. Pada saat itulah, tiba-tiba puluhan orang keluar dari balik pepohonan dan segera mengurung keduanya. Mereka adalah Bujang Sembilan bersama beberapa warga lainnya.


“Hei, rupanya kalian di sini!” seru Kukuban.

Giran dan Sani pun tidak tahu harus berbuat apa. Keduanya benar-benar tidak menyangka jika ada puluhan orang sedang mengintai gerak-gerik mereka.

“Tangkap mereka! Kita bawa mereka ke sidang adat!” perintah Kukuban.

“Ampun, Bang! Kami tidak melakukan apa-apa. Saya hanya mengobati luka Sani yang terkena duri,” kata Giran.

“Dasar pembohong! Aku melihat sendiri kamu mengusap-usap paha adikku!” bentak Kukuban.

“Iya benar! Kalian telah melakukan perbuatan terlarang. Kalian harus dibawa ke sidang adat untuk dihukum,” sambung seorang warga.

Akhirnya, Giran dan Sani digiring ke kampung menuju ke ruang persidangan. Kukuban bersama kedelapan saudaranya dan beberapa warga lainnya memberi kesaksian bahwa mereka melihat sendiri perbuatan terlarang yang dilakukan oleh Giran dan Sani. Meskipun Giran dan Sani telah melakukan pembelaan dan dibantu oleh Datuk Limbatang, namun persidangan memutuskan bahwa keduanya bersalah telah melanggar adat yang berlaku di kampung itu. Perbuatan mereka sangat memalukan dan dapat membawa sial. Maka sebagai hukumannya, keduanya harus dibuang ke kawah Gunung Tinjau agar kampung tersebut terhindar dari malapetaka.

Keputusan itu pun diumumkan ke seluruh penjuru kampung di sekitar Gunung Tinjau. Setelah itu, Giran dan Sani diarak menuju ke puncak Gunung Tinjau dengan tangan terikat di belakang. Sesampainya di pinggir kawah, mata mereka ditutup dengan kain hitam. Sebelum hukuman dilaksanakan, mereka diberi kesempatan untuk berbicara.

“Wahai kalian semua, ketahuilah! Kami tidak melakukan perbuatan terlarang apa pun. Karena itu, kami yakin tidak bersalah,” ucap Giran.

Setelah itu, Giran menengadahkan kedua tanganya ke langit sambil berdoa.

“Ya Tuhan! Mohon dengar dan kabulkan doa kami. Jika kami memang benar-benar bersalah, hancurkanlah tubuh kami di dalam air kawah gunung yang panas ini. Akan tetapi, jika kami tidak bersalah, letuskanlah gunung ini dan kutuk Bujang Sembilan menjadi ikan!”

Usai memanjatkan doa, Giran dan Sani segera melompat ke dalam kawah. Keduanya pun tenggelam di dalam air kawah. Sebagian orang yang menyaksikan peristiwa itu diliputi oleh rasa tegang dan cemas. Jika Giran benar-benar tidak bersalah dan doanya dikabulkan, maka mereka semua akan binasa. Ternyata benar. Permohonan Giran dikabulkan oleh Tuhan. Beberapa saat berselang, gunung itu tiba-tiba bergetar dan diikuti letusan yang sangat keras. Lahar panas pun menyembur keluar dari dalam kawah, mengalir menuju ke perkampungan dan menghancurkan semua yang dilewatinya. Semua orang berusaha untuk menyelamatkan diri. Namun, naas nasib mereka. Letusan Gunung Tinjau semakin dahsyat hingga gunung itu luluh lantak. Tak seorang pun yang selamat. Bujang Sembilan pun menjelma menjadi ikan.

Demikian cerita Asal Usul Danau Maninjau dari Agam, Sumatra Barat, Indonesia. Konon, letusan Gunung Tinjau itu menyisakan kawah yang luas dan lama-kelamaan berubah menjadi danau. Oleh masyarakat sekitar, nama gunung itu kemudian diabadikan menjadi nama danau, yakni Danau Maninjau. Sementara nama-nama tokoh yang terlibat dalam peristiwa itu diabadikan menjadi nama nagari di sekitar Danau Maninjau, seperti Tanjung Sani, Sikudun, Bayua, Koto Malintang, Koto Kaciak, Sigalapuang, Balok, Kukuban, dan Sungai Batang.

Cerita di atas termasuk kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik, yaitu akibat buruk yang ditimbulkan oleh sifat dendam. Dendam telah menjadikan Kukuban tega menfitnah Giran dan Sani telah melakukan perbuatan terlarang. Dari hal ini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa sifat dendam dapat mendorong seseorang berbuat aniaya terhadap orang lain, demi membalaskan dendamnya. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat dendam ini sangat dipantangkan. 

Selamat datang di Masterceme
Hanya 1 user id bisa memainkan 7 jenis permainan.
Minimal Deposit & Withdraw hanya 25.000/50.000
Bonus New Member 20%
Bonus Deposit Harian
Bonus Referal Sebesar 20%
Link : Masterceme{dot}com
WA : +85578968600

 Daftar Sekarang

Saturday, 7 March 2020

Cerita Rakyat Lutung Kasarung

March 07, 2020 0 Comments
Masterceme, Dongeng - Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang putri bernama Purbasari. Dia merupakan anak bungsu dari Prabu Tapa Agung yang merupakan raja kerajaan pasir batang. Purbasari memiliki enam orang kakak perempuan yaitu Purbararang, Purbadewata, Purbaendah, Purbakancana, Purbamanik dan Purbaleuih.

Cerita Rakyat  Lutung Kasarung

Purbasari sangat baik sifat dan kelakuannya. Dia lembut, manis budi, ddan suka menolong. Siapapun juga yang membutuhkan pertolongan dengan senang hati dibantunya. Selain hatinya yang elok, Purbasari juga memiliki paras yang cantik dan rupawan, setiap orang yang melihatnya pasti jatuh hati pada pandangan pertama. Sayangnya kecantikan dan kebaikan hati purbasari tidak menurun dari kakak sulungnya Purbararang yang berperangai sangat buruk. Walaupun cantik Purbararang sangat kasar, sombong, kejam dan iri hati terhadap siapapun juga.

Setelah bertahta dalam waktu yang cukup lama, Prabu Tapa Agung berniat turun tahta. Telah dipikirkan masak-masak, bahwa untuk melanjutkan kepemimpinannya dia akan menunjuk Purbasari. Sang Prabu telah mengamati selama puluhan tahun bahwa Purbasari adalah sosok yang paling pantas menggantikannya, bukan Purbararang walaupun Purbararang adalah anak sulungnya. Pemikirian dari sang Prabu yang bijaksana ini terutama karena sifat dan perilaku anak sulungnya yang buruk. Prabu Tapa agung khawatir, jika Purbararang menjadi Raja maka ketentraman dan kedamaian kehidupan rakyat akan terganggu dan bahkan menjadi rusak akibat kepemimpinan Purbararang yang memiliki sifat sangat buruk.

 Daftar Sekarang

Dihadapan seluruh pembesar kerajaan dan juga ketujuh putrinya raja, Prabu Tapa Agung menyerahkan takhtanya kepada Purbasari. Prabu Tapa Agung lantas meninggalkan istana kerajaannya untuk memulai hidup barunya sebagai pertapa.

Purbararang sangat marah luar biasa mendapati takhta Kerajaan Pasir Batang diserahkan kepada adik bungsunya dan tidak kepada dirinya. Maka, berselang satu hari sejak penobatan Purbasari menjadi Ratu Kerajaan Pasir Batang, Purbararang menghubungi Indrajaya tunangannya. Keduanya kemudian meminta bantuan nenek sihir untuk mencelakai Purbasari.

Nenek sihir jahat memberikan boreh (zat berwarna hitam yang dibuat dari tumbuhan) kepada Purbararang. Nenek sihir itu berkata.” Semburkan boreh ini kewajah dan seluruh tubuh dari Purbasari.”

Purbararang segera melaksanakan pesan dari si nenek sihir. Boreh itu disemburkan ke wajah dan seluruh tubuh Purbasari. Akibatnya diseluruh tubuh Purbasari bermunculan bercak-bercak hitam yang mengerikan. Dengan kondisi tersebut Purbararang memiliki alsan untuk mengusir Purbasari dari istana.

“ Orang yang dikutuk hingga memiliki penyakit mengerikan ini tidak pantas menjadi Ratu kerajaan Pasir Batang. Sudah seharusnya dia diasingkan ke hutan agar penyakitnya tidak menular.” Kata Purbararang.

Purbararang kemudian mengambil tahta Kerajaan Pasir Batang. Dia memerintahkan Uwak Batara yang merupakan penasihat istana mengasingkan Purbasari ke hutan.

Ketika Purbasari tengah diasingkan dihutan, terjadilah masalah besar di khayangan. Pangeran Guru Minda tidak berkenan menikah dengan bidadari khayangan seperti yang diperintahkan Sunan Ambu ibunya. Pangeran Guruminda hanya berkenan menikah dengan perempuan yang kecantikannya setara dengan Sunan Ambu ibunya.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Sunan ambu menjelaskan bahwa sosok perempuan yang secantik dirinya hanya akan ditemui Pangeran Guruminda di dunia manusia. Namun jika pangeran Guruminda bersikeras ingin menemui wanita sesuai keinginannya itu, dia harus pergi ke dunia tidak dalam bentuk pangeran Guruminda yang gagah dan tampan, melainkan harus dalam wujud penyamaran berupa lutung.” Lutung kasarung namamu.” Kata sunan Ambu.” Apakah engkau bersedia melakukannya?”

Pangeran Guruminda menyatakan kesediannya. Setelah menjelma menjadi seekor Lutung Kasarung, Pangeran Guru Minda segera turun ke dunia manusia. Dia tiba di hutan. Dalam waktu singkat saja Lutung Kasarung sudah menjadi raja para lutung dan kera dihutan tersebut. Hal ini sangat wajar karena tidak ada kera dan lutung yang mampu menandingi kesaktian, kecerdasan dan kekuatan dari Pangeran Guruminda.

Lutung Kasarung mengetahui keburukan dan kekejaman dari Purbararang yang bertakhta sebagai ratu di kerajaan Pasir Batang. Lutung Kasarung atau Pangeran Guruminda benar-benar ingin memberi pelajaran kepada Ratu yang kejam tersebut. Maka, ketika dia mendengar rencana Purbararang mencari hewan kurban di hutan, Lutung Kasarung membiarkan dirinya ditangkap oleh orang-orang suruhan Purbararang.

Sebelum dijadikan hewan kurban, Lutung Kasrung tiba-tiba mengamuk dan menimbulkan kerusakan di istana Pasir Batang. Para prajurit kerajaan Pasir Batang yang berniat menangkapnya dibuat tidak berdaya. Kalang kabut semua yang berniat meringkusnya. Lutung Kasarung sepertinya menunjukan permusuhan dengan semua prajurit Kerajaan Pasir Batang.

Melihat kondisi prajuritnya yang terus terdesak. Purbararang meminta Uwak Barata untuk menjinakan Lutung Kasarung. Anehnya saat Uwak Batara maju ke medan laga, Lutung Kasarung seperti tidak berniat menyakiti Uwak Batara. Bahkan saat Uwak Batara menangkapnya Lutung Kasarung tidak melawan. Purbararang segera meminta Uwak Batara membuang Lutung Kasarung ke hutan dimana Purbasari diasingkan. Dia menghendaki Purbasari tewas dimangsa Lutung Kasarung yang dianggapnya sebagai hewan buas.

Cerita Rakyat  Lutung Kasarung

Uwak Batara Lengser membawa Lutung Kasarung ke hutan dimana Purbasari diasingkan. Uwak Batara Lengser yakin bahwa Lutung Kasarung bukanlah hewan biasa, oleh karena itu dia memberikan pesan kepada Lutung Kasarung saat mereka bertemu Purbasari.” Lutung, puteri yang saat ini ada didepanmu adalah putri dari Prabu Tapa Agung. Ia adalah Putri yang baik hati dan seharusnya menjadi Ratu Kerajaan Pasir Batang. Hanya karena kekuatan jahatlah dia diasingkan dan tersingkir ke hutan ini. Oleh karena itu hendaklah engkau menjaga junjungan kami ini.”

Lutung Kasarung menganggukan kepala tanda mengerti. Maka sejak saat itu Lutung Kasarung menjadi penjaga sekaligus menjadi sahabat dekat Purbasari. Dengan hadirnya Lutung Kasarung disisinya membuat kesedihan Purbasari perlahan sirna. Dia mendapatkan sahabat yang menghibur dan melindunginya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Lutung Kasarung memerintahkan para kera untuk membawa makanan dan buah-buahan untuk Purbasari. Kelembutan hati, kebaikan dan sifat baik Purbasari membuat Lutung Kasarung semakin lama semakin sayang kepada Purbasari. Sedangkan sikap tanggung jawab, kepemimpinan dan kecerdasan dari Lutung Kasarung membuat Purbasari menjadi jatuh cinta. Semakin lama mereka merasa tidak dapat dipisahkan lagi.

Tanpa diketahui Purbasari, Lutung Kasarung memohon kepada ibundannya Sunan Ambu untuk dibuatkan taman yang indah dengan tempat pemandian untuk Purbasari. Sunan ambu lantas memerintahkan para dewa dan para bidadari turun ke bumi untuk mewujudkan keinginan dari putranya. Para Dewa dan Bidadari membuatkan taman dan tempat mandi yang sangat indah untuk Purbasari. Pancurannya terbuat dari emas murni. Dinding dan lantainya terbuat dari batu pualam. Air telaga yang mengalir berasal dari telaga kecil yang murni bersih dan dengan doa-doa dari para dewa. Para Dewa dan Bidadari menyebut taman yang indah itu Jamban Salaka. Selain dibuatkan telaga dan taman yang indah, para bidadari menyiapkan beberapa pakaian indah untuk Purbasari. Pakaian itu sangat indah dan lembut. Terbuat dari awan yang lembut dengan hiasan batu-batu permata dari dalam lautan. Tidak ada pakaian di dunia ini yang mampu menandingi keindahan pakaian Purbasari.

Pada saat melihat telaga dengan pancuran yang indah. Purbasari segera berniat mandi untuk membersihkan diri. Pada saat itulah boreh kutukan yang menempel di wajah dan tubuhnya perlahan sirna. Kecantikannya telah kembali. Lutung Kasarung yang melihat hal tersebut menjadi terperangah tidak menyangka orang yang selama ini disayangi ternyata wanita yang sangat cantik mempesona. Bahkan kecantikan Purbasari dapat mengalahkan kecantikan dari Sunan Ambu. Lutung Kasarung dan Purbasari sangat senang dengan keadaan ini. Walaupun Purbasari telah kembali kewujudnya yang cantik rupawan, kasih sayang Purbasari terhadap Lutung Kasarung tidak berkurang, malah bisa dikatakan semakin bertambah.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Kabar mengenai kembalinya kecantikan Purbasari didengar Purbararang. Purbararang tidak percaya dengan berita ini, dia masih percaya diri karena tahu bahwa boreh yang disemburkan kepada Purbasari mengandung kutukan yang sangat jahat dan kuat. Purbararang lantas mengajak tunangannya untuk melihat kebenaran berita tersebut. Betapa kagetnya dia melihat Purbasari telah kembali kesosok nya yang cantik rupawan. Purbasari terlihat semakin mempesona dengan balutan pakaian dari para bidadari.

Purbararang khawatir, telah kembalinya kecantikan adiknya Purbasari akan mengancam takhta yang saat ini dikuasainya. Dia pun memutar otak mencari cara untuk kembali menyingkirkan adiknya tersebut, bahkan kali ini dia berniat menyingkirkan Purbasari untuk selama-lamanya. Purbararang lantas menantang Purbasari untuk beradu panjang rambut. Katanya.” Jika rambutku lebih panjang dibandingkan rambut Purbasari, maka leher Purbasari harus dipenggal algojo kerajaan.”

Purbararang menelan kekecewaan yang besar setelah terbukti rambutnya yang sebetis kalah panjang dengan rambut Purbasari yang sepanjang tumit. Purbararang sangat malu mendapati kekalahannya. Untuk menutupi kekalahannya. Purbararang mengemukakan tantangan baru untuk Purbasari. Tidak tanggung-tanggung tantangan ini diucapkan didepan seluruh masyarakat Kerajaan Pasir Batang. Dengan suara lantang agar didengar warga masyarakat, Purbararang berkata.” Jika wajah tunanganmu lebih tampan dibandingkan wajah tunanganku, takhta Pasir Batang akan kuserahkan kepadamu. Namun jika sebaliknya, maka engkau hendaklah merelakan lehermu dipenggal algojo kerajaan.”


Purbasari paham dia tidak akan mampu menang pada tantangan kali ini. Namun cintanya kepada Lutung Kasarung membuatnya tegar. Dia menggenggam tangan Lutung Kasarung. “ Aku mencintaimu dan ingin engkau menjadi suamiku.” Ucapnya kepada Lutung Kasarung. Air mata berlinang mengalir dikedua pipinya. Lutung Kasrung balas menggenggam tangan Purbasari kemudian mengusap air mata dipipi putri cantik jelita itu.

Cerita Rakyat  Lutung Kasarung

Purbararang tertawa terbahak-bahak.” Monyet hitam itu tunanganmu?”

“ Iya.” Jawab Purbasari lantang dan mantap.

Sebelum Purbararang memerintahkan algojo untuk memenggal Purbasari. Lutung Kasarung tiba-tiba duduk bersila dengan mata terpejam. Mulutnya terlihat komat-kamit. Tiba-tiba asap tebal menyelimuti tubuh Lutung Kasarung. Tidak dalam waktu yang lama, asap tebal menghilang, sosok lutung kasarung dengan wajah jelek, menghilang seiring berlalunya asap pekat. Berganti dengan sosok Pangeran guru Minda yang sangat tampan dan gagah.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Terperanjatlah semua yang hadir ditempat itu mendapati keajaiban yang luar biasa tersebut. Betapa tampannya Pangeran Guru Minda, bahkan sangat jauh melebihi ketampanan Indrajaya tunangan dari Purbararang.

Pangeran Guruminda lantas mengumumkan bahwa ratu kerajaan Pasri Batang yang sebenarnya adalah Purbasari. Purbararang telah mengalami kekalahan dari tantangan yang dibuatnya sendiri.

Dalam kondisi seperti itu, Purbararang tidak dapat menyangkal dan mau tidak mau mengakui kekalahannya. Tidak ada lagi yang dapati diperbuatnya selain menyerakan takhta kerajaan pasri batang kepada adiknya Purbasari. Dia pun memohon ampun atas kejahatan yang telah dilakukannya bersama Indrajaya tunangannya. Dengan kebaikan hatinya, Purbasari memaafkan kesalahan kakak sulungnya itu.

Sejak saat itu Purbasari kembali bertakhta sebagai Ratu. Segenap rakyat sangat bergembira menyambut ratu mereka yang baru, dan sekaligus terlepas dari belenggu pemerintahan Purbararang yang jahat. Mereka semakin berbahagia mengetahuii bahwa Ratu Mereka Purbasari menikah dengan Pangeran guruminda yang tampan dan gagah. Purbasari dan Pangeran guruminda pun hidup berbahagia Selama-lamanya.

 Daftar Sekarang

Wednesday, 4 March 2020

Vampire Menurut Cerita Rakyat Di Barat

March 04, 2020 0 Comments
Masterceme, Cerita Rakyat - Menurut cerita rakyat turun-temurun masyarakat barat, Vampire hidup dengan memakan darah mahkluk hidup yang lain, tidak kira sama ada mayat hidup (undead) atau orang yang masih hidup. Walaupun entiti yang dikatakan sebagai Vampire telah direkodkan dalam banyak kebudayaan, istilah “Vampire” tidak dipopularkan sehinggalah pada awal abad ke-18, selepas kemasukan kepercayaan tahyul terhadap Vampire ke Eropah Barat dari kawasan di mana legenda Vampire kerap berlaku, seperti Balkan dan Eropah Timur

Vampire Menurut Cerita Rakyat Di Barat

Tahap peningkatan kepercayaan tahyul terhadap Vampire di Eropah membawa kepada histeria massa dan dalam beberapa kes mengakibatkan mayat betul-betul ditikam pada bahagian jantung dan terdapat orang-orang yang dituduh sebagai Vampire.

Lain tempat, lain pula namanya. Begitu juga halnya dengan Vampire. Di Greece, Vampire dikenali dengan nama yang berbeza iaitu Vrykolakas manakala Vampire disebut sebagai Strigoi di Romania. Di Malaysia pula, Vampire lebih dikenali sebagai Drakula namun tidak dapat dipastikan sama ada Drakula betul-betul wujud atau hanya sekadar mitos. 

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Di dalam cerita rakyat asal mengenai Vampire, Vampire tidak dapat diusir dengan menggunakan salib. Rupa paras Vampire juga tidak seindah seperti yang digambarkan di dalam filem-filem Hollywood.

Vampire tidak boleh dibunuh oleh cahaya matahari dan tidak boleh dibunuh oleh tikaman kayu ke jantung tetapi hanya boleh dimusnahkan oleh pemotongan kepala atau dengan membakar mereka sampai mati. Walau bagaimanapun, di dalam cerita rakyat asal, Vampire mampu diusir dengan hanya menggunakan bawang putih, besi dan Vampire tidak boleh menyeberangi garis benih tumbuh-tumbuhan, garam, dan air yang mengalir.

Vampire Menurut Cerita Rakyat Di Barat

Vampire muncul secara berbeza dalam cerita rakyat daripada hanya orang biasa dengan gigi taring yang boleh ditarik balik. Mengikut cerita rakyat, Vampire mempunyai kulit kemerah-merahan atau gelap, berbadan kembung, darah meleleh keluar melalui mulut dan mempunyai kuku dan rambut yang panjang. Bukan itu sahaja malah digambarkan bahawa mata mereka merah bersinar-sinar, gigi pula secara luar biasa sangat kuat, dan tubuh mereka berbau busuk seperti bangkai.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Menurut cerita rakyat juga, secara tradisinya Vampire tidur di dalam kubur masing-masing pada waktu siang dan hanya keluar memburu pada waktu malam. Pada mulanya mereka akan memakan darah seluruh ahli keluarga mereka dan apabila ia telah membunuh mereka semua, Vampire mula mencari makan dengan membunuh orang lain dalam masyarakat dan menularkan sumpahan kepada yang lain dan turut menukar mereka menjadi Vampire.

Di samping itu juga, cerita rakyat turut menyatakan bahawa Vampire mempunyai kuasa untuk beralih bentuk ke dalam pelbagai bentuk yang berbeza, termasuk haiwan dan juga kabus. Vampire juga boleh menyebarkan penyakit yang membunuh mangsa dan manjadikan mereka sebagai Vampire. Vampire mempunyai kekuatan dan ketangkasan yang hebat tetapi hanya cukup kuat untuk menguasai mangsanya dan Vampire juga dikatakan tidak pernah puas dari segi seksual.

Selamat datang di Masterceme
Hanya 1 user id bisa memainkan 7 jenis permainan.
Minimal Deposit & Withdraw hanya 25.000/50.000
Bonus New Member 20%
Bonus Deposit Harian
Bonus Referal Sebesar 20%
Link : Masterceme{dot}com
WA : +85578968600

 Daftar Sekarang

Monday, 2 March 2020

Cerita Asal-usul Ikan Duyung Dari Cerita Rakyat Sulawesi Tengah

March 02, 2020 0 Comments
Masterceme - Pada suatu ketika, di Sulawesi Tengah terdapat kisah tentang sebuah keluarga yang bahagia. Keluarga itu terdiri atas bapak, ibu, dan tiga anak yang masih kecil. Setiap pagi, sudah menjadi sebuah kebiasaan dalam keluarga tersebut untuk sarapan bersama-sama. Mereka berkumpul di meaja makan dan berbagi cerita. Selesai sarapan, sang ayah berangkat ke kebun untuk bekerja.

Cerita Asal-usul Ikan Duyung  Dari Cerita Rakyat Sulawesi Tengah

Suatu hari, setelah selesai sarapan, sang bapak berpesan, “Bu, tolong simpan sisa ikan ini! Aku akan memakannya nanti sepulang dari kebun.”

“Baik, Pak. Akan saya simpan,” ucap si ibu.

Berangkatlah sang bapak ke kebun untuk mengolah tanah, sedangkan si ibu menyimpan sisa lauk ikan di lemari makan. Siang harinya, si ibu dan ketiga anaknya berkumpul di meja makan untuk makan siang. Tapi, ketika akan makan, anak yang bungsu merengek untuk makan dengan lauk ikan yang disimpan di lemari makan.

 Daftar Sekarang

“Nak, lauk itu untuk bapak. Tadi, sebelum ke kebun, bapak pesan kepada ibu untuk menyimpannya. Sebab bapak ingin memakannya nanti sore,” jelas si ibu.

“Pokoknya aku cuma mau makan pakai lauk ikan. Aku mau lauk ikan, ibu…,” teriak anak yang bungsu sambil menangis.

Si ibu semakin bingun. Ia tidak tahu lagi bagaimana harus membujuk agar anaknya dapat mengrti pesan dari sang bapak. Si anak terus saja menangis dan tidak mau makan dengan lauk lainnya. Si ibu jadi merasa tidak tega melihat anaknya menangis dengan perut yang masih kosong. Akhirnya, ia mengeluarkan lauk ikan itu dari lemari makanan. Disuapi lauk ikan yang hanya tinggal sedikit kepada si anak hingga tidak tersisa lagi.

Saat sore datang, sang bapak segera bergegas untuk pulang ke rumah. Perutnya terasa sangat lapar. “ wah masih ada sisa ikan tadi pagi. Aku akan memakannya sekarang,” pikirnya.

Setibanya di rumah, ia segera mencari istrinya agar menyiapkan makan sore untuknya. “Bu.. aku pulang! Tolong siapkan makananku di meja makan.”

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

“Baik, Pak,” jawab si ibu cepat.

Istrinya pun sibuk menyiapkan makanan dengan lauk lain.

“Ini Pak makanannya.”

“Lho, mana ikan yang aku pesan tadi pagi?” tanya sang suami.

“Maaf, Pak. Tadi siang si bungsu merengek minta makan dengan lauk ikan. Ia tidak mau makan dengan lauk lainnya,” ucap sang istri.

“Tapi, bukankah aku sudah pesan agar lauk itu disimpan untuk ku makan sore ini? Seharusnya kau menyimpannya dengan baik jangan sampai ketahuan anak kita,” katanya.

Cerita Asal-usul Ikan Duyung  Dari Cerita Rakyat Sulawesi Tengah

Sang bapak yang kala itu sangat lapar tidak dapat menahan emosi. Ia terus saja marah-marah menyalahkan istrinya. Hari pun mulai malam, tapi kemarahan sang bapak bukan makin mereda tapi malah makin menjadi-jadi. Istrinya sangat bingung dan sedih menghadapi suaminya yang terus marah-marah. Tidak ada pengertian sedikitpun dari suaminya hanya karena anaknya memakan sisa lauk ikan yang ia pesan.

Akhirnya, malam itu sang ibu pergi ke laut sambil menangis. Ketiga anaknyapun tidak ada yang tahu bahwa ibunya telah meninggalkan mereka. Mereka masih lelap tertidur. Sang ibu sudah tidak sabar lagi mendengar amarh suaminya yang tiada henti.

Pagi harinya, ketiga anak itu mencari ibu mereka. Dicarinya ke seluruh ruangan, tapi sang ibu tidak ditemukan. Kemudian, anaknya yang tertua mengajak adik-adiknya mencari sang ibu di laut.

“Dik, mari kita ke laut. Siapa tahu ibu ada di sana,” ucap sang kakak.

“Baiklah, Kak. Mungkin ibu mencari ikan di laut agar bapak tidak marah-marah lagi,” jawab adiknya.

“Makanya, Dik. Lain kali, kalau ibu menasehati, kamu tidak boleh marah-marah atau menangis. Kan kasihan ibu nanti dimarahi oleh bapak,” kata kakaknya.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

“Iya, Kak. Aku menyesal,” jawab sang adik.

Ketiga anak itu kemudian pergi ke laut sambil berteriak-teriak memanggil ibunya. Setelah beberapa lama memanggil, sang ibu akhirnya muncul. Sang ibu memeluk ketiga anaknya kemudian menyusui anaknya yang paling kecil.

“Nah, setelah ini kalian harus segera pulang ke rumah ya!” pesan sang ibu. “Iya Bu,” jawab ketiga anaknya.

Ketiga anak itu menuruti pesan sang ibu. Tapi sampai malam menjelang, ibu mereka tidak kunjung kembali ke rumah. Oleh karena itu, keesokan paginya mereka kembali mencari sang ibu di laut.

Setibanya di laut, ketiga anak itu kembali berteriak-teriak memanggil ibu mereka. “Ibu…ibu…ibu… pulanglah! Si bungsu lapar dan ingin menyusu,” kata anak paling tua.

Setelah tiga kali memanggil, si ibu muncul dari dalam laut. Ia segera menyusui anak bungsunya dengan penuh kasih sayang. Namun, lama-kelamaan tanpa disadari tubuh sang ibu sudah mulai bersisik seperti ikan.

Ketika anak-anaknya datang kembali ke laut, melihat si ibu dengan kondisi seperti itu membuat mereka takut dan tidak mau percaya lagi jika wanita itu adalah ibu mereka.

“Kemarilah bungsu, ibu akan menyusuimu,” kata sang ibu.

“Bukan! Kau bukan ibuku. Ibuku tidak bersisik sepertimu!” kata ketiga anaknya.

“Aku adalah ibumu, Nak. Percayalah!” kata si ibu memelas.

“Kami tidak percaya kepadamu. Kau hanya mirip dengan ibu kami,” kata ketiga anaknya.

Betapa sedih hati sang ibu mendengar ucapan anaknya. Ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi karena memang tubuhnya tidak seperti dulu lagi. Di tubuhnya kini muncul sisik-sisik seperti ikan.

Hati wanita yang saat itu telah berubah wujud menjadi manusia setengah ikan sangat hancur. Ia tidak menyangka keputusannya akan memisahkannya dengan anak-anak yang sangat dicintainya. Ia hanya bisa menangis dan kembali ke laut. Sejak saat itu dia dikenal dengan nama ikan duyung. Karena kecantikannya banyak juga orang yang menyebut Putri duyung.

Selamat datang di Masterceme
Hanya 1 user id bisa memainkan 7 jenis permainan.
Minimal Deposit & Withdraw hanya 25.000/50.000
Bonus New Member 20%
Bonus Deposit Harian
Bonus Referal Sebesar 20%
Link : Masterceme{dot}com
WA : +85578968600


 Daftar Sekarang

Follow Us @soratemplates